Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2016

Tolong! Anak Saya Susah Lepas dari Gadget

Tolong! Anak Saya Susah Lepas dari Gadget
Rabu, 07/09/2016


Sumber:http://inet.detik.com/
NewsBreaking21-Anak saya terlalu sering bermain dengan gadget setiap hari, kalau disuruh berhenti dia berontak. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Mungkin hampir semua orangtua di dunia ini mengeluhkan hal yang sama dan bertanya-tanya apakah sikap mereka benar dengan membiarkan anak bermain gadget terlalu lama. Bagaimana kalau anak sampai kecanduan gadget?

Menurut survey Common Sense Media, seperti yang dilansir oleh CNN.com, hampir 80% dari remaja mengatakan mereka memeriksa ponselnya setiap jam, dan 72% mengatakan mereka merasa harus merespons pesan teks dan jejaring sosial mereka.

Fakta ini tidak mengagetkan. Kecanduan teknologi saat ini merupakan masalah yang serius. Anak jadi kehilangan momen berharga dan penting dalam hidupnya, seperti bermain dengan teman-temannya, menghabiskan waktu dengan keluarga, travelling, dan sebagainya. Semua pengalaman itu tidak dapat diganti.

Apa yang harus dilakukan para orangtua?

1. Beri perhatian dan buat kesepakatan

Adiksi atau kecanduan tidak terjadi dalam waktu sehari atau dua hari. Butuh waktu lama sampai ini terjadi. Sudah sepatutnya orangtua memberikan perhatian dan mengawasi anak saat menggunakan gadget. Jika anak sudah semakin sering menghabiskan waktu dengan gadget, perhatian Anda harus lebih ekstra. Jangan menunggu sampai Anda jadi kesulitan mengatasinya.

Menjauhkan gadget dari anak bukan solusi. Orangtua harus memberikan pemahaman tentang gadget dan apa saja yang akan ditemui anak saat berselancar di internet, termasuk game apa yang boleh dimainkan dan yang tidak.

Buatlah kesepakatan dengan anak berapa jam sehari ia boleh bermain gadget, dan tekankan bahwa ia tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya. Kalau anak melanggar, Anda boleh saja menerapkan hukuman berupa mengurangi waktu pemakaian gadget. Jadilah teman, bukan orangtua yang ditakuti anak sehingga anak mau terbuka tentang kegiatan yang ia lakukan dengan gadgetnya.

2. Buat pengalaman yang menyenangkan

Buat aturan bersama di dalam keluarga, misalnya pada saat makan malam gadget tidak boleh digunakan oleh siapa pun termasuk Anda, atau pada saat anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga. Gunakan kesempatan itu untuk mengobrol, tertawa dan berbagi cerita saat mereka bermain dengan teman-temannya. Orangtua harus mau masuk untuk mengenali dunia anak. Atau, Anda bisa menunjukkan foto-foto lama dan momen berharga lainnya untuk membangkitkan kenangan dan membuka obrolan.

Mulailah dari yang kecil, sisihkan waktu 1 jam sehari dari waktu Anda untuk tidak menggunakan ponsel. Lalu tambah lagi frekuensi waktunya. Manfaatkan waktu tersebut untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, misal bermain bersama anak atau memasak bersama untuk membangun koneksi yang lebih dalam dengan anak.

Anda bisa memulainya dengan obrolan seperti: apa rencana mereka pada akhir pekan ini, apakah ada temannya yang menjengkelkan, makan apa mereka tadi siang, apa channel YouTube favorit mereka dan mengapa, dan sebagainya

Trik Titi Kamal Hadapi Banyaknya 'Masukan' Soal Mengasuh Anak

Trik Titi Kamal Hadapi Banyaknya 'Masukan' Soal Mengasuh Anak
Rabu, 07/09/2016


Sumber:http://health.detik.com
NewsBreaking21-Baru melahirkan buah hati dan mendapat saran atau masukan terkait pengasuhan anak dari lingkungan sekitar juga dialami aktris Titi Kamal. Tak jarang, masukan yang diterima Titi tak sejalan dengan pemikirannya.

Meski begitu, Titi memiliki cara sendiri untuk menghadapi segala saran tersebut. Walaupun, Titi sendiri tak sreg dengan saran tersebut. Ia mengatakan tetap tidak terlalu menutup diri akan masukan yang diberi orang sekitarnya.

"Kalau masukan itu benar ya saya dengar. Tapi kalau saya rasa masukan itu membuat saya bukan menjadi diri sendiri ya saya tetap senyum dang appreciate. Intinya, saya tetap menjalani apa yang sesuai dengan diri saya," kata Titi dalam peluncuran Isoplus di Veranda Hotel, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Rabu (7/9/2016).

Titi mengatakan, sejak hamil putra pertamanya Arjuna Zayan Sugiono (2), ia kerap mendapat saran dari orang sekitar. Misalnya sebaiknya anak selalu digendong atau ditimang-timang. Atau sebaliknya, jika terlalu sering disentuh anak akan 'bau tangan'.

"Banyak masukan tapi kan saya tahu yang terbaik buat anak. Walaupun bekerja, anak harus tetap terjaga nutrisi dan perkembangannya. Kemudian, setiap apa yang saya lakukan izin dulu juga sama suami. Jadi, masukan tetap diterima tetapi kan saya lebih tahu apa yang terbaik untuk anak saya," kata Titi.

"Kadang kalau anak nangis pas bayi, disuruh langsung ngangkat, padahal saya pengen diemin dulu. Atau ada yang bilang nanti kamu bakal begadang. Tapi sebagai orang tua, saya tetap berusaha ngatur ritme tidur Juna yang tepat. Jadi dari kecil Juna sudah diajarkan disiplin," imbuhnya.

Keluarga, lanjut Titi tetap jadi prioritas dirinya. Tetapi, Titi tak lupa untuk selalu memiliki me time hingga ia tetap bisa jadi dirinya sendiri.

Jumat, 26 Agustus 2016

Cek Kesehatan Gigi, Bolehkah Jika Kurang dari Tiap 6 Bulan Sekali?

Cek Kesehatan Gigi, Bolehkah Jika Kurang dari Tiap 6 Bulan Sekali?
Jumat, 26/08/2016


Sumber:http://health.detik.com/
NewsBreaking21-Memeriksakan kesehatan gigi secara rutin amat dianjurkan. Untuk rentang melakukan cek gigi, haruskah tiap enam bulan sekali?

Menurut drg Roseita Dewi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), pemeriksaan gigi sebenarnya tidak harus 6 bulan sekali. Maka dari itu, disarankan cek kesehatan gigi dilakukan minimal 6 bulan sekali. Hal ini jelas tergantung dari kondisi masing-masing individu.

"Contohnya pada individu yang memiliki faktor risiko penyakit gigi disarankan lebih intens memeriksakan giginya," kata drg Ita, begitu ia akrab disapa ketika berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

Sementara, untuk faktor risiko penyakit gigi dikatakan drg Ita cukup beragam. Di antaranya kesadaran seseorang dalam menjaga kebersihan giginya, kondisi air ludah yang kental, penyakit sistemik, kebiasaan mengonsumsi makanan asam dan manis, serta waktu dan cara menyikat gigi yang kurang tepat.

Baca juga: Jangan Khawatir, Gigi Kuning Tidak Selalu Buruk Kok

"Pemeriksaan gigi minimal 6 bulan sekali juga memiliki manfaat. Antara lain mencegah dan mendeteksi dini bila ada kelainan, sehingga pasien bisa mendapatkan perawatan gigi segera sebelum gangguan pada giginya makin parah," kata drg Ita.

Nah, ketika orang rutin atau tidak mengecek kesehatan giginya, menurut drg Ita bisa terlihat dari kondisi rongga mulutnya yang sehat. Seperti apa? Ya, rongga mulut yang sehat ditandai misalnya tidak terdapat karang gigi, gigi berlubang, gusi meradang, atau keganasan penyakit dalam rongga mulut.

"Kemudian, tidak ada pula bau mulut yang jika dialami tidak hanya berdampak pada kesehatan perorangan, tetapi juga terhadap kepercayaan diri," pungkas drg Ita.

Dinas Kesehatan sebut jumlah kasus DBD meningkat

Dinas Kesehatan sebut jumlah kasus DBD meningkat
 Jum'at, 26 Agustus 2016


Sumber:
NewsBreaking21-Layaknya pengetahuan umum, demam berdarah atau demam berdarah dengue (DBD) merupakan jenis penyakit demam akut yang disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus, dengan genus Flavivirus, atau dikenal dengan nama Virus dengue. Penyakit ini ditularkan pada manusia melalui nyamuk Aedes Aegypti.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menunjukkan, jumlah kasus demam berdarah (DBD) Januari-Juli 2016 sebanyak 402 kasus. Jumlah tersebut sudah melebihi angka setahun kemarin yang hanya 392 kasus.

"Januari sampai Juli 2016 ada 402 kasus, sedangkan tahun lalu 392 kasus selama setahun. Kami berharap tidak bertambah lagi," kata Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif di Malang, Kamis (25/8), seperti dilansir dari merdeka.com.

Dari angka 402 kasus, terdapat dua kasus kematian tahun ini, sementara tahun lalu terjadi tiga kasus kematian. Padahal saat ini penyakit DBD masih terus menjadi ancaman, lantaran hujan yang masih kerap turun. Agar angka kasus DBD dapat ditekan, pihaknya meminta masyarakat untuk berpartisipasi secara penuh terkait pencegahan dan penularan. Tempat-tempat sekitar rumah rawan menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti.

Salah satu yang bisa dilakukan masyarakat adalah meningkatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Masyarakat harus mewaspadai tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk, termasuk lubang tiang bendera sekalipun. Lubang tiang bendera, dipastikan menjadi tempat tumbuh kembangnya nyamuk penyebab DB. "Ini sepele tetapi penting, mewaspadai lubang tiang bendera," katanya.

Lubang tiang bendera, kalau sudah tidak terpakai harus ditutup. Kalau tidak air akan menggenang, menjadi sarang dan tempat berkembang biak nyamuk. "Harus ditutup kalau sudah tidak digunakan," lanjut Husnul.

Selain lubang tiang bendera, yang patut diwaspadai adalah pot tanaman, kaleng bekas dan bak mandi. Segala bentuk barang yang digenangi air harus dimusnahkan agar tidak menjadi sarang nyamuk.

Husnul juga menyarankan untuk membuat perangkap nyamuk dengan memakai baskom berisi air bersih. Gunakan kain kasa warna hitam untuk menutup rapat baskom tersebut.

Baskom tersebut akan menjadi sarang nyamuk dari bertelur, tumbuh menjadi larva, berubah jentik dan menjadi nyamuk lagi. Nyamuk tersebut tidak akan bisa keluar dari perangkap itu, tetapi lama-lama akan mati dengan sendiri selama tidak dibuka penutupnya.

Selasa, 23 Agustus 2016

Nekat! Imigran Afghanistan Mengikat Diri di Bawah Truk Menuju Italia

Nekat! Imigran Afghanistan Mengikat Diri di Bawah Truk Menuju Italia
Rabu 24 Aug 2016


Sumber:http://www.detik.com/
NewsBreaking21-Seorang imigran asal Afghanistan nekat mengikat dirinya di bawah sebuah truk, dengan ikat pinggang. Di bawah truk itu, imigran ini melaju sejauh 400 kilometer hingga ke Italia, dari Yunani.

Seperti dilansir AFP, Rabu (24/8/2016), imigran Afghanistan ini ditangkap setelah pengendara lainnya di jalan raya antara Naples-Roma, menyadari keberadaannya di bawah truk dan melapor kepada polisi setempat.

Pengemudi truk itu yang warga Bulgaria, mengaku tidak menyadari keberadaan penumpang gelap di bawah truknya. Pengemudi yang membawa truk itu dari Turki menuju ke Spanyol, akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanannya.

Dalam wawancara dengan media lokal Sky TG24, imigran Afghanistan ini mengaku dirinya membayar 900 euro atau Rp 13 juta kepada seorang penyelundup manusia. Oleh penyelundup manusia itu, imigran ini diikatkan di bawah truk, saat berada di atas kapal feri yang berlayar dari Yunani menuju pelabuhan Italia, Brindisi.

Baca juga: Pemimpin ISIS di Afghanistan dan Pakistan Tewas dalam Serangan Drone AS

Imigran yang tidak disebut namanya ini, sebelumnya menghabiskan waktu 6 bulan di salah satu kamp imigran di Yunani. Imigran ini selama 22 jam berada di bawah truk dalam situasi yang sangat berbahaya.

Dia menyebutnya sebagai pengalaman yang keras, tapi masih bisa dijalani. "Saya harus melalui hal-hal yang jauh lebih berbahaya di Afghanistan, dibandingkan perjalanan ini," sebutnya.

Setelah ditangkap, imigran Afghanistan itu dibawa ke rumah sakit setempat untuk diperiksa, sebelum akhirnya dibawa ke pusat penampungan imigran di Italia. Karena mengindikasikan tidak ingin mengajukan suaka di Italia, imigran ini diperintahkan meninggalkan negara itu dalam 7 hari ke depan. Imigran itu ingin melanjutkan perjalanan ke Prancis untuk bertemu teman-temannya, dan menyebut ibu serta saudaranya tinggal di Swiss.

Lebih dari 100 ribu imigran tiba di Italia sejak awal tahun ini. Kebanyakan dari mereka menolak untuk mengajukan suaka di negara itu, dengan harapan bisa mengajukan suaka di negara-negara Eropa Utara.

Sabtu, 20 Agustus 2016

Video Penyiar CNN Tak Kuasa Menahan Tangis Melihat Bocah Suriah Ini

Video Penyiar CNN Tak Kuasa Menahan Tangis Melihat Bocah Suriah Ini
19 Agustus 2016


Sumber:http://www.eramuslim.com/
NewsBreaking21-Omran Daqneesh, nama bocah lima tahun asal Aleppo, Suriah ini. Dia menjadi sorotan media dunia, setelah beredar luas foto dirinya penuh debu dan darah setelah diselamatkan dari puing-puing bangunan yang hancur di Aleppo.

Fotonya diambil dari cuplikan video yang diposting Aleppo Media Centre.

Penyiar CNN, Kate Bolduan tak kuasa menahan tangisnya saat menyiarkan foto dan video Omran Daqneesh.

Omran tampak bingung duduk di ambulans. Dia merupakan bocah cilik yang masih selamat dari serangan udara militer pro-Pemerintah Rezim Suriah Bashar al-Assad. Belum jelas, serangan diluncurkan pesawat tempur Rusia atau militer Suriah.

Foto dan video Omran telah menjadi viral di media sosial di seluruh dunia. Ketika dievakuasi, seluruh tubuhnya tertutup debu dan darah.

Bocah ini jadi korban perang di Qaterji, Aleppo. Dia adalah salah satu dari lima anak yang terluka dalam serangan udara pada Rabu (17/8) malam, bersama dengan dua pria dan seorang wanita muda.

Beruntung, Omran cepat dibawa ke mobil ambulans. Lantaran tertutup debu, luka parah di dahinya tidak terlihat.




Video kondisi Omran yang diunggah Aleppo Media Centre pertama kali diunggah kelompok aktivis Suriah tersebut pada Rabu malam waktu setempat. Setelah berhasil dikuasai mujahidin, Aleppo kembali dibombardir oleh jet-jet tempur rezim Assad.

Omran menjadi perhatian dunia, foto nestapa dirinya betul-betul mewakili kondisi perang Suriah dan kekejaman rezim Assad yang sudah berlangsung lebih lima tahun.

470.000 tewas
1.500.000 terluka
11.000.000 mengungsi

Sabtu, 13 Agustus 2016

Psikolog: Guru dan Orang Tua Murid yang Gunakan Kekerasan Sama-sama Salah

Psikolog: Guru dan Orang Tua Murid yang Gunakan Kekerasan Sama-sama Salah
Sabtu 13 Aug 2016


Sumber:http://www.detik.com/
Guru SMKN 2 Makassar bernama Dasrul mendapat bogem mentah dari orang tua murid di dalam lingkungan sekolah. Pelaku bernama Ahmad Adnan diketahui merupakan orangtua Alif Syahdan, kelas 2 jurusan Gambar II.

Psikolog Anak dan Remaja Universitas Indonesia Ratih Zulhaqqi menilai bahwa kasus antara murid, orangtua, dan guru tersebut seperti lingkaran setan. Guru menampar muridnya sementara itu orangtua murid tidak terima anaknya ditampar.

"Kalau dari berita yang saya dengar, gurunya sempat menampar anaknya karena berbicara kasar. Di sini perlu ditekankan baik orang tua dan guru tidak boleh bicara kasar. Tapi inikan kayak lingkaran setan. Orang tua juga merasa kesal kenapa anaknya diberi kekerasan fisik oleh guru," kata Ratih Zulhaqqi saat dihubungi detikcom, Jumat (12/8/2016) malam sekitar pukul 20.20 WIB.

"Ini bisa memberikan efek ke kedua belah pihak, baik kepada anak dan gurunya. Dua-duanya, kontrol emosinya rendah. Mungkin malah ketiganya rendah," lanjutnya.

Ratih juga menjelaskan atas dalih apapun, sebenarnya di dalam dunia pendidikan dilarang menggunakan kekerasan. "Mungkin kreativitas seorang guru musti harus dibenahi dalam mendidik," ucap Ratih.

Perihal saling adu antara guru dengan orangtua siswa, Ratih menganggap keduanya sudah seperti dalam permainan. Saling lapor menurutnya bukan cara menyelesaikan masalah.

"Saya melihatnya bukan sebagai psikolog ya, sudah ya satu sama satu. Sebaiknya jalur yang ditempuh jalur kekeluargaan," imbuh lulusan Magister Profesi Klinis Anak Universitas Indonesia ini.

Menurut Ratih lewat jalur kekeluargaan sebenarnya lebih baik dibanding melalui jalur hukum. Saat ini, lanjutnya keduanya sebaiknya harus menyadari kesalahan masing-masing.

"Tapi kalau yang saya nilai, sebelum menempuh jalur hukum, melapor itu sebenarnya tidak menyenangkan. Misal membuat BAP, harus berkali-kali datang. Sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan. Atau mungkin keduanya perlu menyadari kesalahan masing-masing," tutur Ratih.

Terakhir, Ratih menegaskan bahwa tidak ada yang benar. Baik gurunya, murid ataupun orang tuanya.

"Sekarang tidak ada gunanya siapa yang paling benar. Karena dua-duanya itu melakukan kesalahan," tutupnya.

Sesak Napas Menjadi Salah Satu Dampak Edema Paru

Sesak Napas Menjadi Salah Satu Dampak Edema Paru
Sabtu, 13/08/2016


Sumber:http://health.detik.com/
Di antara paru-paru dan dinding dada manusia terdapat cairan yang berfungsi khusus untuk mengurangi gesekan yang bisa saja terjadi di antara keduanya. Namun pada kasus tertentu, volume cairan ini bisa tiba-tiba bertambah banyak.

Kondisi semacam ini lazim disebut sebagai edema paru, yang berarti penumpukan cairan di paru-paru. Umumnya edema paru dipicu oleh infeksi atau adanya tumor pada organ paru-paru.

Akan tetapi persoalan yang lebih buruk baru akan muncul ketika edema paru dibiarkan begitu saja. "Bila penumpukan cairan dibiarkan terlalu lama, pasien akan merasa sesak karena fungsi paru-paru yang terganggu oleh cairan tersebut," jelas dr Hariadi Hadibrata, SpBT KV dalan acara bulanan pertemuan CISC (Cancer Infomation and Support Center) di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (13/08/2016).

Untuk itu agar bisa dihindari, dr Hariadi menyarankan pada mereka yang memiliki cairan berlebih agar memeriksakan diri ke dokter sehingga cairan tersebut dapat segera dikeluarkan. Dengan begitu, dampak akibat penumpukan cairannya pun juga akan terkurangi.

Baca juga: Nyeri Dada Kanan dan Hilang Bila Menghela Napas, Indikasi Sakit Jantung?

"Namun bila cairan yang berlebihnya masih sedikit, masih bisa diserap dengan mengonsumsi makanan sehat seperti makanan tinggi protein," lanjut dr Hariadi yang juga praktek di RS Siloam, Semanggi, Jakarta Pusat tersebut.

Lantas untuk bisa mengetahui apakah seseorang mengalami kelebihan cairan dalam paru-parunya atau tidak, metode paling efektif yang bisa digunakan adalah dengan foto rontgen.

"Bisa saja dokter mengetahui dengan mendengar suara paru-paru, tetapi yang paling efektif yaitu rontgen atau melalui USG," pungkasnya.

Menkes Singgung Pentingnya Kantin Sehat bagi Tumbuh Kembang Anak

Menkes Singgung Pentingnya Kantin Sehat bagi Tumbuh Kembang Anak
Sabtu, 13/08/2016


Sumber:http://health.detik.com/
NewsBreaking21-Makanan sehat dan bergizi merupakan faktor utama maksimalnya tumbuh kembang anak. Karena itu, adanya kantin sehat di sekolah menjadi penting.

Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek pun menyadari hal tersebut. Ia mengatakan bahwa sejak awal menjabat sebagai menteri, salah satu tujuan yang ingin dilakukan adalah membangkitkan kembali Unit Kesehatan Sekolah (UKS), yang di dalamnya termasuk kantin sehat.

"Memang kami (Kemenkes) sejak pertama kabinet kerja terbentuk sudah duduk bersama Kemendikbud untuk membicarakan kembalinya UKS yang di dalamnya itu termasuk kantin sehat harus ada. Tapi sayangnya hingga kini belum terealisasi dengan lancar," tutur Menkes Nila, ditemui di Hotel Pullman, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (13/8/2016).

Sebagai faktor utama tumbuh kembang anak, makanan yang sehat dan bergizi sudah seharusnya diberikan kepada anak di sekolah. Sayangnya, hingga saat ini masih sedikit sekolah yang memiliki program kantin sehat.

Dikatakan Menkes, makanan tidak sehat adalah makanan yang tidak memiliki kandungan gizi seimbang, terlalu banyak gula, garam dan lemak, serta mengandung pengawet. Pemberian makanan seperti ini kepada anak dapat mengganggu tumbuh kembangnya, yang secara tidak langsung akan berdampak pada tinggi badan, berat badan serta kemampuan otak anak.

"Saat ini kita dibebani oleh double burden. Anak-anak yang obesitas meningkat, tapi di sisi lain yang malnutrisi masih ada," urainya.

Ia berharap dengan adanya kantin sehat maka masalah kelebihan dan kekurangan nutrisi pada anak bisa segera diatasi. Tentunya, harus ada kerja sama dari berbagai pihak terkait agar gagasan ini bisa segera terwujud.

"Harus ada kerja sama dengan sekolah dan pedagang. Jadi pedagang diedukasi dulu jangan pakai pengawet, pewarna. Nanti ada BPOM juga yang bertindak melakukan pengecekan dan ijin," ungkapnya.